Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2013

Sajak 3

Surga di Langit
Sebuah istana di langit, memang kedengarannya utopis Dengan tangga yang menjuntai ke bawah menyentuh bumi Menciumi tiap bibir harapan pribumi pemimpi Suatu waktu aku ingin ke sana, sendiri pun tak apa Melompati tiap anak tangganya yang harum dengan pagarnya berupa rantai mawar Apa ini masih terdengar ajaib? Terlalu khayal sampai kau tak sudi kuajak? Barangkali di sana tak hanya ada bidadari Mungkin juga ada pangeran impian yang selama ini kau damba Dengan busur mimpi milikku dan juga anak panah doa yang kau asah sejak dulu Kita pada akhirnya mau untuk bersemayam di sana Mencoba peruntungan bertransmigrasi di daerah tak bertuan Kita pun tiba di lembah malaikat yang selama ini kau pun tak sampai benar menduganya Apa kita akan betah? Apa kita masih tetap jadi manusia? Kau pun diam Tanpa kusuruh, malaikat mengubahmu jadi bidadari ....
Cirebon, 2 Juli 2013

Sajak 2

Nadi Pejuang


Lebih dari belasan windu lalu, darah adalah harga mati Yang tak bisa dihalalkan, melainkan harus dibeli dengan sejuta keping kehormatan Milik seorang biasa tak tahu nama dan di mana bentengnya Kita harusnya sadar, betapa perjudian masa lalu telah kita menangkan Meski bukan oleh kita, oleh mereka si lampau bermartabat Sekarang menyisa kompetisi sehat namun rasanya orang-orang telah berpaling Malas, konspirasi, dan pemenang yang menyebut dirinya pecundang hadir tanpa hormat Yang datang di tengah-tengah kita Mengaku sebagai pejuang, lebih tepatnya cucu cicit veteran Lantas kita lalu berdalih makan uang mereka Minum jua dari belas kasih mereka Kita pejuang kah? Benar, pejuang yang kalah sebelum berperang Mengangguk ketika ada dollar, menari saat saudara kita merintih
Nadi pejuang telah hilang, binasa melebur karena keegoisan Lalu jejak sejarah mencatat tentang sebuah prediksi Nyatanya mereka juga bilang bahwa di masa nanti kita akan jadi tumbal Karena apa? Pejuang-pejuang tadi diam, sejenak me…

Sajak 1

Semusim dan Semusim Lagi

Daun retak tengah menggembur bersama sulur takdir Menyatu lenyap mengukir Tandus mencipta hara Dan harap pun tumbuh setelah cinta mati Kau dan aku Sejenak mari kita bicara tentang hujan Yang entah kapan singgah Rindu kita punah Memudar membujur bentuk pelangi Hilang diterjang guntur bernama masa lalu
Apakah abad-abad akan kembali Pada muara kasih Sayang menyisa, sepi datang Semusim dan semusim lagi Berharap dan berdoa untuk kesekian kali Menegur dan sholat kembali Runtuh dan kemudian sadar kembali
Hidup adalah elegi Dan ajal merupa ode abadi Semusim dan semusim lagi Setelah mati, kehidupan akhirat menanti ....
Cirebon, 9 Juni 2013
___________________________
Dimuat di Forum Dialektika Cirebon, Juni 2013