Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Sajak 3

Surga di Langit
Sebuah istana di langit, memang kedengarannya utopis Dengan tangga yang menjuntai ke bawah menyentuh bumi Menciumi tiap bibir harapan pribumi pemimpi Suatu waktu aku ingin ke sana, sendiri pun tak apa Melompati tiap anak tangganya yang harum dengan pagarnya berupa rantai mawar Apa ini masih terdengar ajaib? Terlalu khayal sampai kau tak sudi kuajak? Barangkali di sana tak hanya ada bidadari Mungkin juga ada pangeran impian yang selama ini kau damba Dengan busur mimpi milikku dan juga anak panah doa yang kau asah sejak dulu Kita pada akhirnya mau untuk bersemayam di sana Mencoba peruntungan bertransmigrasi di daerah tak bertuan Kita pun tiba di lembah malaikat yang selama ini kau pun tak sampai benar menduganya Apa kita akan betah? Apa kita masih tetap jadi manusia? Kau pun diam Tanpa kusuruh, malaikat mengubahmu jadi bidadari ....
Cirebon, 2 Juli 2013

Sajak 2

Nadi Pejuang


Lebih dari belasan windu lalu, darah adalah harga mati Yang tak bisa dihalalkan, melainkan harus dibeli dengan sejuta keping kehormatan Milik seorang biasa tak tahu nama dan di mana bentengnya Kita harusnya sadar, betapa perjudian masa lalu telah kita menangkan Meski bukan oleh kita, oleh mereka si lampau bermartabat Sekarang menyisa kompetisi sehat namun rasanya orang-orang telah berpaling Malas, konspirasi, dan pemenang yang menyebut dirinya pecundang hadir tanpa hormat Yang datang di tengah-tengah kita Mengaku sebagai pejuang, lebih tepatnya cucu cicit veteran Lantas kita lalu berdalih makan uang mereka Minum jua dari belas kasih mereka Kita pejuang kah? Benar, pejuang yang kalah sebelum berperang Mengangguk ketika ada dollar, menari saat saudara kita merintih
Nadi pejuang telah hilang, binasa melebur karena keegoisan Lalu jejak sejarah mencatat tentang sebuah prediksi Nyatanya mereka juga bilang bahwa di masa nanti kita akan jadi tumbal Karena apa? Pejuang-pejuang tadi diam, sejenak me…

Sajak 1

Semusim dan Semusim Lagi

Daun retak tengah menggembur bersama sulur takdir Menyatu lenyap mengukir Tandus mencipta hara Dan harap pun tumbuh setelah cinta mati Kau dan aku Sejenak mari kita bicara tentang hujan Yang entah kapan singgah Rindu kita punah Memudar membujur bentuk pelangi Hilang diterjang guntur bernama masa lalu
Apakah abad-abad akan kembali Pada muara kasih Sayang menyisa, sepi datang Semusim dan semusim lagi Berharap dan berdoa untuk kesekian kali Menegur dan sholat kembali Runtuh dan kemudian sadar kembali
Hidup adalah elegi Dan ajal merupa ode abadi Semusim dan semusim lagi Setelah mati, kehidupan akhirat menanti ....
Cirebon, 9 Juni 2013
___________________________
Dimuat di Forum Dialektika Cirebon, Juni 2013

Mei di Bekasi

Minggu, 16 Mei 2013
Derap langkah kedua sepatu hitamku memacu menyusuri zebra cross depan masjid raya Bogor, kulirik hape ternyata masih pukul 09.00 WIB. Sungguh, Bogor sedikit banyak membuatku stress karena kota ini bener-bener enggak bisa pisah dari yang namanya macet. Coba bayangkan, tiga hari berada di sini dalam rangka keliling IPB, tiap kutelusuri jalanan besar, always macet yang kulihat. Mataku tiap hari kudu ditetesi rohto karena hal ini. Budget turun drastis bo, gara-gara kejebak makan di warteg yang ternyata warung makan eksklusif ....
Kutunggu si dia yang enggak nongol-nongol. Cape sih, nunggu seseorang tanpa kepastian kaya gini, akhirnya aku memutuskan untuk singgah di masjid raya Bogor. Daripada kayak orang bego nunggu di depan gramedia Padjajaran? Ngiler iya, mau beli buku udah terlanjur rempong. Mana di sana enggak ada tempat penitipan barang, alhasil aku jadi penghuni masjid untuk sementara.
Kemudian dia sms, huft nada sms-nya benar-benar menggambarkan kekhawatirannya se…

Lukisan Senja

Lukisan Senja


Aku masih menunggu seseorang di sini. Hendak kutancapkan kanvas itu dengan kuas lembut, namun aku masih menunggu seseorang. Aku tidak mungkin melakoni kegiatan favoritku tanpa dia. Menurutku, dia itu sesuatu .... Kutatap arlojiku yang berwarna perak kelabu, dua jam lagi senja akan terlukis di ufuk barat sana. Aku sudah tak bisa lagi untuk mematung di sini, dengan ketidakpastian yang pasti membuatku merasa bosan. Aku tak mungkin menyeretnya dari tempatnya berdiri sekarang, entah dengan siapa dia, sedang melakukan apa, atau dia telah melupakanku? Akh.... Aku sungguh tak peduli. Aku masih setia menunggu di gubuk reot ini, ditemani perdu, diteduhi oleh pohon Cocos nucifera yang melambai-lambai ketika mendengar alunan angin yang menggesek setiap sendi-sendi tubuhnya. Ini lebih menyejukkan dibanding melihatnya dengan yang lain. Ya? *** Tiga tahun lalu.... Aku baru datang ke tanah seribu candi ini, entah namanya apa. Ini hanyalah salah satu permai yang menjadi puzzle paling inda…

Goresan Doa untuk Kawan

Tanpa harus panjang lebar membuka monolog ini, aku akan berterus terang pada kalian semua tentang kedua sahabatku ini. Ada beberapa sahabat lain yang sebenarnya hadir. Namun pada episode ini, dua orang hebat inilah yang terpotret kenangan.
Aku ambil dua foto ini suatu hari di padang hijau di bagian selatan desa kami. Beberapa jengkal jaraknya tak jauh dari rumah lelaki kecil yang dulunya suka menggambar dan membuat kerajinan tangan. Oh ya, si yang besar ini namanya sangat aneh. Kalau diartikan berupa samudra, mungkin laut, mungkin juga ... akh entahlah, dia hobi melukis, dan sangat mengidolakan girlband. Ini absurd karena ia bersekolah di kelas otomotif. Sungguh tidak selaras.
Si baju kuning, alias si jangkung, kalau aku tak salah artikan namanya itu memiliki makna hamba Allah yang perkasa. Jika kamu ingin menguji kekuatannya, memang tidak lebih besar kekuatan fisiknya dari sahabat pertamaku tadi. Dia hobi menggoreskan pena dan memotret kenangan-kenangan dengan gadget cerdasnya. Masuk ke…

Kenangan Tentang Sepukat Mimpi

Sebenarnya dengan tergesa-gesa waktu itu aku datang ke sekolah dengan membawa mimpiku yang hampir pudar. Hari itu bertepatan dengan pembagian raport yang kusangka awalnya akan baik-baik saja. Tetapi, seperti yang akan kuduga sebelumnya bahwa nilai-nilaiku tidak akan naik sedrastis dulu mengingat banyaknya ulangan-ulangan yang aku lalui tidaklah semulus yang aku bayangkan.


Oh iya, hari ini pun bertepatan dengan acara tahunan yang digelar berkala oleh sekolah, yah acara itu adalah porak-poranda, nama aslinya bukanlah begitu, tetapi sepertinya kamu tahu apa nama yang lebih tepatnya. Sebuah acara pertandingan olahraga yang diikuti oleh warga seluruh sekolah, hemmm... sebenarnya cuma oleh siswa-siswinya saja sih, hehehe .....


Dan apa yang bisa aku dapatkan dari kejadian yang satu ini adalah aku hanya bisa menjadi pemandu sorak yangsuper freakakan kelasnya, apa kamu bisa bayangkan seberapa kerasnya suaraku saat itu? Melebihi suara toa masjid desaku sendiri.Miris?Tidak, karena ini hanya hiburan…